Anggota Dewan Pers Imam Wahyudi Edukasi Wartawan PESAWAT

oleh

ACEH TIMUR, metropesawat.id | Imam Wahyudi, Anggota Dewan Pers, Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Pers, memberikan edukasi kepada wartawan Aceh Timur, yang tergabung dalam lembaga Persatuan Wartawan Aceh Timur (PESAWAT), Jumat (28/1/2022).

Dalam kesempatan itu, Imam Wahyudi, menyampaikan hal-hal penting yang harus dipahami oleh seorang Jurnalis.

https://metropesawat.id/category/berita-aceh-timur/

Katanya, siapapun setiap warga Negara Indonesia berhak mendirikan perusahaan pers dengan syarat memenuhi persyaratan yang berlaku sesuai dengan Pasal 9 ayat 2 UU Pers.

Begitu juga setiap warga Negara bisa menjadi seorang jurnalis.

Tapi sejatinya, seorang jurnalis adalah orang yang secara kontinyu melahirkan karya jurnalistik secara professional yaitu yang sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

“Jadi jurnalis itu, orang melahirkan karya jurnalistik secara professional sesuai KEJ,” ungkap Imam.

“Meski sudah seniorpun dia di Jurnalis, kalau karyanya tidak professional sesuai KEJ, tetap saja karya sampah,” ungak Imam.

Kemerdekaan pers yang dijamin oleh UU Pers, ungkap Imam, adalah untuk seorang jurnalis yang benar-benar menjalankan tugas jurnalistik secara professional yaitu sesuai dengan Pasal 4 ayat 3, serta sesuai dengan KEJ.

“Jadi apabila sudah seniorpun seseorang di Jurnalis, apabila karyanya tidak sesuai dengan UU Pers, dan KEJ, maka tidak bisa berlindung dibawah pers, tapi bisa terancam pidana,” ungkapnya.

Salah satu contoh, ungkap Imam, sesuai pedoman pemberitaan media siber, setiap berita menuding suatu pihak tidak boleh diterbitkan apabila belum memuat hak jawab yang tertuding.

“Jadi berita itu, diturunkan harus akurat, berimbang, dan clear (ABC). Namun, apabila dimuat sebelum memuat hak jawab, bisa terancam dipidana,” ungkap Imam.

Jadi mudah membedakan antara wartawan professional dengan yang tidak.

Soal administrasi ditinjau dari sisi persyaratan atau badan hukum perusahaan per situ sendiri.

Sedangkan seorang jurnalis dilihat dari karya jurnalistknya, sudah memenuhi KEJ atau tidak.

“Jika tidak memenuhi KEJ, maka itu bukan karya jurnalistik. Jadi, jurnalis itu, bukan hanya mengaku sebagai seorang jurnalis, tetapi adalah orang yang melahirkan karya jurnalistik secara professional,” ungkap Imam. [redaksi]