Khutbah Idul Fitri: Enam Orang yang Merugi Saat Tiba Idul Fitri

oleh

Telah tiba waktunya untuk menyambut hari kemenangan umat Islam atau Hari Raya Idul Fitri 2022 Masehi atau 1443 Hijriah.

Pada perayaan hari kemenangan ini, bagian yang tak terpisahkan ialah ibadah shalat Idul Fitri di masjid. Dalam rangkaian ibadah tersebut terdapat sebuah khutbah Idul Fitri.

https://metropesawat.id/category/berita-aceh-timur/

Di hari Idul Fitri 1443 H, kami ingin menyampaikan khutbah yang cukup sederhana yaitu enam orang yang merugi saat Idul Fitri ini. Siapa saja mereka?.

Kita berharap, semoga kita tidak termasuk di dalamnya dan selamat dari sifat-sifat jelek yang ada.

Adapun khutbah Idul Fitri yang membuat jamaah menangis yang disampaikan oleh Drs. H. Ibnu Sakdan M.pd, Kepala Biro UIN Ar-Raniry Banda Aceh dengan judul Enam Orang yang Merugi Saat Tiba Idul Fitri.

Pertama, Yang belum sadar akan salat fardu hingga Idul Fitri.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, no. 82).

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan, “Jika seseorang meninggalkan shalat, maka tidak ada antara dirinya dan kesyirikan itu pembatas, bahkan ia akan terjatuh dalam syirik.” (Syarh Shahih Muslim, 2:64).

Kedua, Yang belum pernah menginjakkan kakinya di masjid hingga Ramadan usai.

Padahal jika kita dalam keadaan sehat, punya penglihatan yang jelas, tidak ada penghalang untuk ke masjid tentu wajib untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya,

‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda,

‘Maka penuhilah panggilan azan tersebut.’ (HR. Muslim, no. 503).

Ketiga, Yang memikirkan ibadah hanya di bulan Ramadan saja.

Di antara salaf, ada yang bernama Bisyr pernah menyatakan,

“Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ingat, orang yang shalih yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390).

Kita diperintahkan itu sampai mati, bukan hanya di bulan Ramadan saja, bukan hanya Ramadoniyyun saja.

Maka Allah Ta’ala perintahkan, “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99).

Keempat, Sudah mampu dengan memenuhi syarat zakat, namun pelit untuk berzakat.

Harusnya seorang muslim tidak takut hartanya berkurang karena zakat dan sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyemangati Bilal untuk bersedekah,

“Berinfaklah wahai Bilal! Janganlah takut hartamu itu berkurang karena ada Allah yang memiliki ‘Arsy (Yang Maha Mencukupi).” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih. Lihat Shahihul Jaami’, no. 1512).

Kelima, Sibuk meminta maaf pada manusia, namun tak peduli dosanya pada Ar-Razzaq (Yang Maha Memberi Rezeki).

Banyak yang saat Idul Fitri minta maaf kepada manusia, namun tak pernah ia meminta maaf kepada Allah. Ia terus saja meninggalkan shalat, atau shalatnya bolong-bolong dan itu berlanjut hingga Ramadan, kemudian berlanjut bada Ramadan. Seharusnya kita segera bertaubat. Dosa terkait hak Allah harusnya kita dahulukan untuk mendapatkan maaf dan ampunan Allah. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135).

Keenam: Bentuk Perilaku Durhaka Anak kepada Orangtua

Agama Islam selalu mengajarkan umatnya untuk berlaku baik dan memuliakan orangtua.

Apalagi melarang berbagai perilaku yang mencerminkan perbuatan durhaka seorang anak kepada kedua orangtua. Bahkan, Islam melabelkan perilaku ini sebagai salah satu dosa besar yang perlu dihindari.

Rasulullah pernah bersabda:

“Kedua orangtua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orangtua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orangtua kalian” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah No.914).

Berbuat baik kepada orangtua menjadi salah satu seorang anak menjadi penghuni surga. Namun sebaliknya, bila seorang anak berbuat durhaka kepada orang maka bisa menuntun anak tersebut ke pintu neraka.

Mengeluarkan kalimat cacian dan mendoakan hal buruk kepada orangtua.

Ketika masih kecil, orangtua pasti selalu memberikan doa-doa positif untuk menuntun anak mereka kepada kebaikan. Kebaikan yang telah diperbuat seharusnya dibalas dengan perbuatan baik sekaligus mendoakan hal-hal baik kepada orangtua.

Rasulullah SAW bersabda:

Allah melaknat orang yang melaknat kedua orangtuanya.”

Dalam hadis ini tertulis bahwa setiap anak yang berani mengeluarkan kalimat cacian dan mendoakan keburukan kepada orangtua, maka anak tersebut akan dilaknat besar oleh Allah.

Ketika Allah telah melaknat seseorang, maka hidupnya di dunia maupun akhirat akan penuh dengan kegelapan dan kesulitan.

Membentak, mengeluarkan kalimat kasar, dan melakukan perbuatan yang membuat orangtua menangis.

Agama Islam selalu mengajarkan seorang anak menjaga perkataan dan perbuatan kita agar tidak menyakiti hati orangtua, apalagi sampai membuatnya menangis.

Abdullah bin Umar bersabda:

“Membuat tangisnya kedua orangtua adalah termasuk durhaka kepadanya.” (HR Bukhari).

Perlu diingat, tangisan orangtua yang disebabkan rasa sakit mereka terhadap perkataan atau perbuatan anaknya jelas berbeda dengan tangisan haru yang disebabkan olah rasa bangga.

Air mata orangtua yang disebabkan karena perilaku buruk anaknya termasuk bentuk kedurhakaan yang dilarang oleh Allah.

Dan masih banyak lagi seperti berperilaku buruk yang membuat orangtua marah, atau mengeluarkan kalimat hinaan kepada orangtua.

Demikian khutbah singkat ini, semoga kita bukan menjadi salah satu orang yang merugi saat Idul Fitri datang, orang yang mampu mengambil pelajaran, sehingga selalu mendapat hidayah dan pertolongan Allah SWT…. Aamin. [Iskandar Ishak].