Ketua KKM : PAMSIMAS Seumanah Jaya sudah Rampung Hingga Ujifungsi

oleh

ACEH TIMUR, metropesawat.id | Mahyudi, Ketua Kelompok Keswadayaan (KKM) pembangunan program Penyediaan Air Minum Dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) tahun anggaran 2021 di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, membantah proyek tersebut terbengkalai.

“Proyek ini sudah selesai dan sudah dilakukan ujifungsi yang disaksikan oleh fasilitas tehnik, keuchik, Ketua PAMSIMAS Aceh Timur, dan masyarakat. Ari sudah mengalir ke rumah warga, ” ungkap Mahyudi.

https://metropesawat.id/category/berita-aceh-timur/

Hanya saja saat ini, ungkap Mahyudi, penyebab belum berfungsinya PAMSIMAS sesuai harapan masyarakat karena mesin pompanya hilang, dan ada beberapa titik pipa rusak yang perlu diperbaiki.

“Terkait persoalan ini, kami (KKM) sudah berkoordinasi dengan Tuha Peut untuk mencari jalan keluarnya. Kami akan bermusyawarah dengan masyarakat penerima mamfaat untuk mencari jalan keluar kelanjutan PAMSIMAS ini,” ungkap Mahyudi.

Jadi, ungkap Mahyudi, tidak benar Proyek PAMSIMAS Seumanah Jaya terbengkalai dan merugikan uang negara terbuang sia-sia.

Yudi menjelaskan, total anggaran PAMSIMAS Seumanah Jaya, tidak seperti yang tertulis dalam papan informasi.

Di spanduk tertulis total dana PAMSIMAS Rp 405.000.000.Dengan rincian, 70 % dari APBK yaitu Rp 283.500.000, kemudian dari dana INKIND 16 % yaitu Rp 64.800.000, selanjutnya dari dana INCASH 4 % Rp 16.200.000, dan dari APDES 10 % yaitu Rp 40.500.000.

“Jadi sebenarnya, dalam pembangunan PAMSIMAS ini dana yang ada dari APBK Rp 283.500.000, dan dana dari APDES Rp 40.500.000, jadi total dana untuk pembangunan PAMSIMAS ini hanya Rp 324.000.000, sedangkan sumber dana INKIND dan INCASH itu tidak ada, karena sebenarnya dana INKIND dan INCASH itu, merupakan dukungan masyarakat dalam bentuk gotong royong, yang apabila dinilaikan senilai yang tertera dalam dana INKIND dan INCASH itu,” jelas Yudi.

“Sementara kami dalam melaksanakan pembangunan PAMSIMAS ini tidak ada gotong royong, tapi diupahkan kepada pekerja yang menggunakan dana dari Rp 324 juta tersebut, tapi Alhamdulilah pekerjaan selesai hingga berhasil ujifungsi, ” ungkap Yudi.

Jadi sebenernya, ungkap Yudi, syarat agar program PAMSIMAS ini dapat disalurkan apabila masyarakat bisa menyediakan dana INCASH sebesar 4 % dari total PAGU (Rp 16.200.000).

Dana INCASH dikutip dari masyarakat penerima mamfaat sebanyak 195 kk.

Apabila Rp 16 juta dibagi 195 kk penerima mamfaat, maka seharusnya dikutip dari warga Rp 83 ribu per kepala keluarga.

“Tapi dana tersebut tidak ada dikutip. Rencananya dana Rp 83 ribu itu kami kutip waktu air dimasukkan ke rumah warga. Tapi belum dilakukan penyambungan ke rumah warga mesin pompa sudah hilang, sehingga penyaluran ke rumah warga terkendala,” jelasnya.

Dari dana Rp 324 juta itu, ungkap Yudi, pihaknya sudah membangun tower menara air, pemipaan, dua tempat cuci tangan, dan instalasi listrik.

“Sedangkan dana INCASH seharusnya dikutip dari penerima mamfaat, sedangkan dana INKIND senilai Rp 64.800.000 tanggungjawab masyarakat dalam bentuk gotong royong, tapi kita tidak ada gotong royong melainkan diupahkan kepada pekerja yang upahnya diambil dari Rp 324 juta tersebut, ” jelas Yudi.

“Meski tidak ada gotong royong, tapi Alhamdulilah pekerjaan selesai, hanya saja mesin hilang sehingga belum dapat difungsikan. Karena itu, solusi kelanjutannya kami sudah berkoordinasi dengan Tuha Peut, dan masyarakat penerima mamfaat untuk mencari jalan keluarnya, ” cetus Yudi.[*]